Letak Geografis
Kabupaten Kepulauan Meranti adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Riau Indonesia dengan ibu kotanya adalah Selat Panjang. Secara geografis kabupaten Kepulauan Meranti berada pada
koordinat antara sekitar 0°
42' 30" - 1° 28' 0" LU, dan 102° 12' 0" - 103° 10' 0" BT,
dan terletak pada bagian pesisir timur pulau Sumatera, dengan pesisir pantai yang
berbatasan dengan sejumlah negara tetangga dan masuk dalam daerah Segitiga
Pertumbuhan Ekonomi (Growth Triagle) Indonesia - Malaysia - Singapore
(IMS-GT ) dan secara tidak langsung sudah menjadi daerahHinterland Kawasan
Free Trade Zone (FTZ) Batam - Tj. Balai Karimun.Dalam rangka memanfaatkan
peluang dan keuntungan posisi geografis dan mendorong pertumbuhan ekonomi
wilayah perbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura, maka wilayah kabupaten Kepulauan
Meranti sangat potensial berfungsi sebagai Gerbang Lintas Batas Negara/Pintu
Gerbang Internasional yang
menghubungkan dengan Riau daratan dengan negara tetangga melalui jalur laut,
hal ini untuk melengkapi kota Dumai yang terlebih dahulu ditetapkan dan
berfungsi sebagai kota Pusat
Kegiatan Strategis Negara yaitu
yang berfungsi sebagai beranda depan negara, pintu gerbang internasional, niaga
dan industri. Luas kabupaten Kepulauan Meranti : 3707,84 km²,
sedangkan luas kota Selatpanjang adalah 45,44 km².
Selat Panjang
Selat Panjang merupakan ibukota dari
kecamatan tebing tinggi, yang merupakan salah satu kecamatan dari kabupaten
kepulauan meranti yang terdiri dari 9 Kecamatan yaitu : Kecamatan Tebing Tinggi
ibukota Selat Panjang, Kecamatan Tebing Tinggi Barat ibukota Alai, Kecamatan
Rangsang ibukota Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang Barat ibukota Bantar,
Kecamatan Merbau ibukota Teluk Belitung , Kecamatan Pulau Merbau ibukota Renak
Rungun, Tebing Tinggi Timur ibukota Sungai Tohor, Putri Puyu ibukota Bandul,
dan Rangsang Pesisir ibukota Sonde.
Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari Pulau Tebing Tinggi, Pulau
Padang, Pulau
Merbau, Pulau Ransang, Pulau Topang, Pulau Manggung, Pulau
Panjang, Pulau Jadi, Pulau Setahun, Pulau
Tiga, Pulau Baru, Pulau Paning, Pulau Dedap,Pulau Berembang, Pulau
Burung. Adapun nama Meranti diambil dari nama gabungan "Pulau
Merbau, Pulau Ransang dan Pulau Tebing tinggi".
Pertumbuhan Penduduk
Laju
pertumbuhan penduduk sebagai Kabupaten termuda di Provinsi Riau, Kabupaten
Kepulauan Meranti, selama kurun sepuluh tahun terakhir yakni dari tahun 2000
hingga tahun 2010 adalah sekitar 0,60 persen. Berdasarkan hasil sensus penduduk
(SP) Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkalis, yang tinggal pada tahun 2000
berjumlah sekitar 166,1 ribu jiwa dan SP pada tahun 2010 ini jumlah penduduk
meningkat sekitar 176,4 ribu jiwa,yang terdiri dari 90.577 laki-laki,dan 85.794
perempuan. Laju pertumbuhan penduduk yang paling tinggi di kabupaten termuda
ini adalah di Kecamatan Tebing Tinggi Barat dengan angka sekitar 1,58 persen
atau dari 13,0 ribu jiwa pada SP tahun 2000 menjadi 15,2 ribu jiwa pada SP
tahun 2010 tahun ini
Sedangkan yang terendah adalah di
Kecamatan Rangsang Barat, sekitar 0,12 persen atau hasil SP pada tahun 2000
berjumlah 24,6 ribu jiwa menjadi 24,9 ribu jiwa pada SP 2010. Laju pertumbuhan
penduduk di Kecamatan Tebing Tinggi(Kecamatan Tebing Tinggi Timur) 0,56 persen
atau dari jumlah penduduk SP tahun 2000 berjumlah sekitar 62,2 ribu jiwa
menjadi 65,8 ribu jiwa pada SP tahun 2010, di Kecamatan Rangsang laju
pertumbuhan penduduk sekitar 0,87 persen dari jumlah penduduk pada SP tahun
2000 berjumlah 24,2 ribu jiwa menjadi 26,4 ribu jiwa pada SP 2010 tahun ini,
dan di Kecamatan Merbau( Kecamatan Pulau Merbau ) laju pertumbuhan penduduknya
tembus sekitar pada angka 0,47 persen atau dari jumlah penduduk 42,1 ribu jiwa
pada SP 2000 lalu menjadi 44,1 ribu jiwa pada SP tahun 2010.
23,48 Persen Penduduk Tidak Menetap
Berdasarkan hasil sensus penduduk (SP) BPS Kabupaten Bengkalis tahun 2010,
jumlah penduduk yang tinggal di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan luas wilayah
sekitar 3.760,13 Kilometer persegi, rata-rata kepadatan penduduk adalah
sebanyak 47 jiwa per Kilometer persegi. Kecamatan yang paling tinggi tingkat
kepadatan penduduknya yaitu Kecamatan Rangsang Barat, sebanyak 97 jiwa per
Kilometer persegi, diikuti Kecamatan Tebing Tinggi sekitar 66 jiwa per
Kilometer persegi.
Sedangkan kepadatan penduduk paling rendah
adalah Kecamatan Tebing Tinggi Barat yakni 31 jiwa per Kilomter persegi.
Sementara itu, dibandingkan dengan hasil pendataan yang terdaftar melalui
catatan sipil setempat berjumlah sekitar 230 ribu jiwa dan pendataan melalui SP
BPS tahun 2010 penduduk Kepulauan Meranti, bahwa hanya berjumlah 175 ribuan
saja yang tinggal di daerah tersebut. Dapat dikatakan bahwa, setidaknya sekitar
23 persen lebih penduduk yang terdaftar di Kabupaten Kepulauan Meranti tidak
menetap.
Dari data itu terdapat selisih besar
dari 230 ribu jiwa menjadi 175 jiwa, penyusutan itu karna bahwa penduduk yang
sudah tidak terdaftar di capil setempat tidak menetap di sana. Mungkin saja
karena belajar dan bekerja di luar daerahnya dan warga ini masih tercatat di
capilduk. Jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti terus mengalami
peningkatan setiap tahun. Berdasarkan data terakhir Dinas Catatan Sipil dan
Kependudukan Kabupaten Kepulauan Meranti hingga Februari 2012 meningkat menjadi
238.412 ribu jiwa.
Sumber Daya Alam
Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi sumber daya alam, baik sektor
Migas maupun Non Migas, di sektor Migas berupa minyak bumi dan gas alam, yang
terdapat di daerah kawasan pulau Padang. Di kawasan ini telah beroperasi PT Kondur Petroleum S.A di
daerah Kurau desa Lukit (Kecamatan Merbau), yang mampu produksi 8500
barel/hari.Selain minyak bumi, juga ada gas bumi sebesar 12 MMSCFD (juta kubik
kaki per hari) yang direncanakan penggunaannya dimulai 2011–2020. Di sektor Non
MIgas kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi beberapa jenis perkebunan
seperti sagu
(Metroxylon sp) dengan produksi 440.309
ton/tahun (2006) kelapa: 50.594,4 ton/tahun, karet: 17.470
ton/tahun, pinang: 1.720,4 ton/tahun, kopi: 1.685,25
ton/tahun. Hingga kini potensi perkebunan hanya diperdagangkan dalam bentuk
bahan baku keluar daerah Riau dan belum dimaksimalkan menjadi industri hilir,
sehingga belum membawa nilai tambah yang mendampak luas bagi kesejahteraan
masyarakat lokal. Sementara di sektor kelautan dan perikanan dengan hasil
tangkapan: 2.206,8 ton/tahun. Selain itu masih ada potensi dibidang kehutanan,
industri pariwisata, potensi tambang dan energi.![]() |
| Timah di Meranti |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar